Jumaat, 4 Jun 2010
CARA PSIKOLOGI MENARIK ANAK-ANAK FAHAM
Seorang guru wanita sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada
anak muridnya. Ia duduk menghadap anak muridnya. Di tangan kirinya ada
kapur, di tangan kanannya ada kayu pemadam. Guru itu berkata, "Saya ada
satu permainan...
Caranya begini, ditangan kiri saya ada kapur, di tangan
kanan ada kayu pemadam. Jika saya angkat kapur ini, maka sebutlah
"Kapur!",
jika saya angkat kayu pemadam ini, maka katalah "Pemadam!"
Anak muridnya faham dan seterusnya menyebut dengan betul. Guru
bersilih-ganti
mengangkat tangan kanan dan kirinya, semakin lama semakin cepat.
Beberapa saat kemudian guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan.
Jika saya angkat kapur, maka sebutlah "Pemadam!", jika saya angkat
kayu pemadam, maka katakanlah "Kapur!". Dan diulangkan seperti tadi,
tentu saja murid-murid tadi keliru dan kekok, dan sangat sukar untuk
mengubahnya. Namun lambat laun, mereka kembali biasa dan tidak kekok
lagi.
Selang beberapa saat, permainan berhenti.
Guru tersenyum kepada anak muridnya. "Murid-murid, begitulah kita
umat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Kita
begitu jelas membezakannya. Namun kemudian, satelah musuh kita
memaksakan kepada kita dengan perbagai cara untuk menukarkan sesuatu,
perkara yang haq telah menjadi bathil, dan sebaliknya.
Pada mulanya agak sukar bagi
kita menerima hal tersebut, tapi kerana terus disosialisasikan dengan
pelbagai cara menarik oleh mereka, lambat laun kita akan terbiasa
dengan hal itu, seterusnya kita mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kita
tidak pernah berhenti membolak-balik dan menukar nilai murni
akidah/hukum Islam
dari masa ke semasa.
"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, Zina
tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, tanpa
rasa malu, sex sebelum nikah menjadi suatu kebiasaan dan trend, hiburan
yang asyik dan panjang sehingga melupakan yang wajib adalah biasa,
materialistik kini menjadi suatu gaya hidup dan lain lain." "Semuanya
sudah terbalik. Dan tanpa disedari, anda sedikit demi sedikit
menerimanya tanpa rasa ia satu kesalahan dan kemaksiatan. Faham?" tanya
Guru kepada anak muridnya.
"Baik untuk permainan kedua..." Gurunya meneruskannya......
"Cikgu ada Qur'an,cikgu akan letakkannya di tengah karpet. Sekarang anda
berdiri diluar karpet. Permainannya adalah , bagaimana caranya mengambil
Qur'an yang ada ditengah tanpa memijak karpet?"
Murid-muridnya berfikir . Ada yang mencuba dengan tongkat, dan
selainnya.
Akhirnya Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil
Qur'an. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet .."Murid-murid,
begitulah ummat Islam dengan musuhnya. .. Musuh Islam tidak akan
memijak-mijak anda dengan terang-terangan. ..Kerana tentu anda akan
menolaknya dengan mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam
dihina dihadapan mereka. Tapi mereka akan monolak kita secara
ansur-ansur,
sehingga kita tidak sedar.
"Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina tapak yang
kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat.
Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau dimulai dgn
tapaknya dulu, tentu saja dinding dan peralatan akan dikeluarkan dulu,
kerusi dipindahkan dulu, Almari dibuang dulu satu persatu, baru rumah
dihancurkan. ..."
"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan
menghentam terang-terangan, tapi ia akan perlahan-lahan merusakan kita.
Mulai dari perangai kita, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga
meskipun kita muslim, tapi kita telah meninggalkan ajaran Islam dan
mengikuti cara mereka... Dan itulah yang mereka inginkan." "Ini
semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Dan inilah yang
dijalankan oleh musuh musuh kita... "
"Kenapa mereka tidak berani terang-terang memijak-mijak kita, cikgu?"
tanya murid- murid.
"Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang Islam, misalnya
Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak lagi."
"Begitulah Islam... Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan
sedar, akhirnya hancur. Tapi kalau diserang secara terang-terangan,
kita akan bangkit serentak, baru mereka gerun".
"Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan mari kita
berdoa dahulu sebelum pulang..."
( uSAH BAANYAK MEMBEBEL UNTUK MENGAJAR KANAK-KANAK)
Ahad, 16 Mei 2010
Marilah kita bersangka baik…
Tak semua persoalan perlukan penjelasan, mungkin kita tidak faham apa maksud dari semua Qada dan QadarNya, tetapi pasti Allah ada jawapan atas semua itu.
Gunakan kesempatan untuk kebaikan sebelum segalanya terlepas dari genggaman.
Berikut adalah tips dari Syeikh Abdulkadir Al Jailani untuk sentiasa bersangka baik sesama insan.
Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahawa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu : “Mungkin kedudukannya di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku”.
Jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah (dalam hatimu) : “Anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepadaNya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku”..
Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah (dalam hatimu): “Dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku.”
Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, maka ucapkanlah (dalam hatimu): “Orang ini memperoleh kurnia yang tidak akan kuperolehi, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.”
Jika bertemu dengan seorang yang jahil, maka katakanlah (dalam hatimu) : “Orang ini bermaksiat kepada Allah kerana dia jahil (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepadaNya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku.”
Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah (dalam hatimu) : “Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, mungkin di akhir usianya dia memeluk Islam dan beramal soleh. Dan mungkin boleh jadi di akhir usia diriku kufur dan berbuat buruk…
Sekadar berkongsi..
Gunakan kesempatan untuk kebaikan sebelum segalanya terlepas dari genggaman.
Berikut adalah tips dari Syeikh Abdulkadir Al Jailani untuk sentiasa bersangka baik sesama insan.
Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahawa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu : “Mungkin kedudukannya di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku”.
Jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah (dalam hatimu) : “Anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepadaNya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku”..
Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah (dalam hatimu): “Dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku.”
Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, maka ucapkanlah (dalam hatimu): “Orang ini memperoleh kurnia yang tidak akan kuperolehi, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.”
Jika bertemu dengan seorang yang jahil, maka katakanlah (dalam hatimu) : “Orang ini bermaksiat kepada Allah kerana dia jahil (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepadaNya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku.”
Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah (dalam hatimu) : “Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, mungkin di akhir usianya dia memeluk Islam dan beramal soleh. Dan mungkin boleh jadi di akhir usia diriku kufur dan berbuat buruk…
Sekadar berkongsi..
Jilbab Dalam Al Quran Dan Jilbab Zaman Sekarang
A. Pendahuluan
Ketika masyarakat kita mengenal kata 'jilbab' (dalam bahasa indonesia) maka yang dimaksud adalah penutup kepala dan leher bagi wanita muslimah yang dipakai secara khusus dan dalam bentuk yang khusus pula. Lalu bagaimanakah kata 'jilbab' muncul dan digunakan dalam masyarakat arab khususnya pada masa turunya Al Quran kepada Nabi Muhammad Saw dalam surat Al Ahzaab ayat 56 (?). Apa yang dimaksudkan Al Quran dengan kata 'jalabiib' bentuk jamak (plural) dari kata jilbab pada saat ayat kata itu digunakan dalam Al Quran pertama kali(?) Sudah samakah arti dan hukum memakai jilbab dalam Al Quran dan jilbab yang dikenal masyarakat Indonesia sekarang(?).
Selain kata jalabiib (jamak dari 'jilbab'), Al Quran juga memakai kata-kata lain yang maknanya hampir sama dengan kata 'jilbab' dalam bahasa Indonesia, seperti kata khumur (penutup kepala) dan hijab (penutup secara umum), lalu bagaimana kata-kata serupa dalam ayat-ayat Al Quran tersebut diterjemahkaan dipahami dalam bahasa syara` (agama) oleh para shahabat Nabi dan ulama` selanjutnya.
Oleh karena itu kita tidak akan tahu pandangan syara` terhadap hukum suatu permasalahan kecuali setelah tahu maksud dan bentuk kongkrit serta jelas dari permasalahan itu, maka untuk mengetahui hukum memakai jilbabterlebih dahulu harus memahami yang di maksud dengan jilbab itu sendiri secara benar dan sesuai yang dikehendaki Al Quran ketika diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dan bangsa arab saat itu.
Salah satu dimensi i`jaz (kemukjizatan) Al Quran adalah kata-kata yang dipakai Al Quran sering menggunakan arti kiyasan atau dalam sastra arab disebut majaz (penggunaan satu kata untuk arti lain yang bukan aslinya karena keduanya saling terkait), hal ini menimbilkan benih perbedaan, begitu pula kata-kata dalam nash-nash (teks-teks) Hadist dan bahasa arab keseharian, oleh karena itu tidak jarang bila perselisian antara ulama-ulama Islam dalam satu masalah terjadi disebabkan oleh hal di atas, dan yang demikian itu sebenarnya bukanlah hal yang aneh dan bisa mengurangi kesucian atau keautentikan teks-teks Al Quran, tapi sebaliknya.
Mungkin kita juga pernah mendengar wacana kalau berjilbab maka harus menutup dada, lalu bagaimana kalau jilbabnya berukuran kecil dan tidak panjang ke dada dan lengan, apakah muslimah yang memakainya belum terhitung melaksanakan seruan perintah agama dalam Al Quran itu sebab tidak ada bedanya antara dia dan wanita yang belum memakai jilbab sama sekali, apakah sama dengan wanita yang membuka auratnya (bagian badan yang wajib di tutup dan haram di lihat selain mahram). Benarkah presepsi atau pemahaman yang demikian(?). Apa seperti itu Al Qur an memerintahkan(?)
B. Jilbab
Arti kata jilbab ketika Al Quran diturunkan adalah kain yang menutup dari atas sampai bawah, tutup kepala, selimut, kain yang di pakai lapisan yang kedua oleh wanita dan semua pakaian wanita, ini adalah beberapa arti jilbab seperti yang dikatakan Imam Alusiy dalam tafsirnya Ruuhul Ma`ani.
Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan; Jilbab berarti kain yang lebih besar ukurannya dari khimar (kerudung), sedang yang benar menurutnya jilbab adalah kain yang menutup semua badan.
Dari atas tampaklah jelas kalau jilbab yang dikenal oleh masyarakat indonesia dengan arti atau bentuk yang sudah berubah dari arti asli jilbab itu sendiri, dan perubahan yang demikian ini adalah dipengaruhi oleh berbagai factor, salah satunya adalah sebab perjalanan waktu dari masa Nabi Muhammad Saw sampai sekarang atau disebabkan jarak antar tempat dan komunitas masyarakat yang berbeda yang tentu mempunyai peradaban atau kebudayaan berpakaian yangberbeza.
Namun yang lebih penting ketika kita ingin memahami hukum memakai jilbab adalah kita harus memahami kata jilbab yang di maksudkan syara`(agama), Shalat lima kali bisa dikatakan wajib hukumnya kalau diartikan shalat menurut istilah syara`, lain halnya bila shalat diartikan atau dimaksudkan dengan berdoa atau mengayunkan badan seperti arti shalat dari sisi etemologinya.
Allah Swt dalam Al Quran berfirman:
ياايهاالنبى قل لأزواجك وبناتك ونساءالمؤمنين يدنينعليهن من جلابيبهن ذلك أدني أن يعرفن فلا يؤذين وكان الله غفورارحيما (الأحزاب 59)
Artinya:Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu.Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang. (Al Ahzab.59).
Ayat di atas turun ketika wanita merdeka (seperti wanita-wanita sekarang) dan para budak wanita (wanita yang boleh dimiliki dan diperjual belikan) keluar bersama-sama tanpa ada suatu yang membedakan antara keduanya, sementara madinah pada masa itu masih banyak orang-orang fasiq (suka berbuat dosa) yang suka mengganggu wanita-wanita dan ketika diperingatkan mereka (orang fasiq) itu menjawab kami mengira mereka (wanita-wanita yang keluar) adalah para budak wanita sehingga turunlah ayat di atas bertujuan memberi identitas yang lebih kepada wanita-wanita merdeka itu melalui pakaian jilbab.
Hal ini bukan berarti Islam membolehkan untuk mengganggu budak pada masa itu, Islam memandang wanita merdeka lebih berhak untuk diberi penghormatan yang lebih dari para budak dan sekaligus memerintahkan untuk lebih menutup badan dari penglihatan dan gangguan orang-orang fasiq sementara budak yang masih sering disibukkan dengan kerja dan membantu majikannya lebih diberi kebebasan dalam berpakaian.
Ketika wanita anshar (wanita muslimah asli Makkah yang berhijrah ke Madinah) mendengar ayat ini turun maka dengan cepat dan serempak mereka kelihatan berjalan tenang seakan burung gagak yang hitam sedang di atas kepala mereka, yakni tenang -tidak melenggang- dan dari atas kelihatan hitam dengan jilbab hitam yang dipakainya di atas kepala mereka.
Ayat ini terletak dalam Al Quran setelah larangan menyakiti orang-orang mukmin yang berarti sangat selaras dengan ayat sesudahnya (ayat jilbab), sebab berjilbab paling tidak, bisa meminimalisir pandangan laki-laki kepada wanita yang diharamkan oleh agama, dan sudah menjadi fitrah manusia, dipandang dengan baik oleh orang lain adalah lebih menyenangkan hati dan tidak berorentasi pada keburukan, lain halnya apabila pandangan itu tidak baik maka tentu akan berdampak tidak baik pula bagi yang dipandang juga yang melihat, nah, kalau sekarang kita melihat kesebalikannya yaitu ketika para wanita lebih senang untuk dipandang orang lain ketimbang suaminya sendiri maka itu adalah kesalahan pada jiwa wanita yang perlu dibenarkan sedini mungkin dan dibuang jauh jauh terlebih dahulu sebelum seorang wanita berbicara kewajiban berjilbab.
C. Cara memakai jilbab
Cara memaki jilbab dengan arti aslinya yaitu sebelum diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi bahasa yang baku, adalah aturan yang mana para shahabat dan ulama` berbeza pendapat ketika menafsirkan ayat Al Quran di atas. Perbedaan cara memakai jilbab antara shahabat dan juga antara ulama itu disebab bagaimana idnaa`ul jilbab (melabuhkan jilbab atau melepasnya) yang ada dalam ayat itu. Ibnu Mas`ud dalam salah satu riwayat dari Ibnu Abbas menjelaskan cara yang diterangkan Al Quran dengan kata idnaa` yaitu dengan menutup semua wajah kecuali satu mata untuk melihat, sedangkan shahabat Qotadah dan riwayat Ibnu Abbas yang lain mengatakan bahwa cara memakainya yaitu dengan menutup dahi atau kening, hidung, dengan kedua mata tetap terbuka. Adapun Al Hasan berpendapat bahwa memaki jilbab yang disebut dalam Al Quran adalah dengan menutup separuh muka, beliau tidak menjelaskan bagian separuh yang mana yang ditutup dan yang dibuka ataukah tidak menutup muka sama sekali.
Dari perbedaan pemahaman shahabat seputar ayat di atas itu muncul pendapat ulama yang mewajibkan memaki niqob atau burqo` (cadar) karena semua badan wanita adalah aurat (bagian badan yang wajib ditutup) seperti Abdul Aziz bin Baz Mufti Arab Saudi, Abu Al a`la Al maududi di Pakistan dan tidak sedikit Ulama`-ulama` Turky, India dan Mesir yang mewajibkan bagi wanita muslimah untuk memakai cadar yang menutup muka, Hal di atas sebagaimana yang ditulis oleh Dr.Yusuf Qardlawi dalam Fatawa Muashirah, namun beliau sendiri juga mempunyai pendapat bahwa wajah dan telapak tangan wanita adalah tidak aurat yang harus ditutup di depan laki-laki lain yang bukan mahram (laki-laki yang boleh menikahinya), beliau juga menegaskan bahwa pendapat itu bukan pendapatnya sendiri melainkan ada beberapa Ulama` yang berpendapat sama, seperti Nashiruddin Al Albani dan mayoritas Ulama`-ulama` Al Azhar, Qardlawi juga berpendapat memakai niqob atau burqo`(cadar) adalah kesadaran beragama yang tinggi yang man bila dipaksakan kepada orang lain, maka pemaksaan itu dinilainya kurang baik, sebab wanita yang tidak menutup wajahnya dengan cadar juga mengikuti ijtihad Ulama` yang kredibelitas dalam berijtihadnya dipertanggung jawabkan.
Sedangkan empat Madzhab, Hanafiyah, Malikiyah, Syafi`iyah dan Hanabila berpendapat bahwa wajah wanita tidaklah aurat yang wajib ditutupi di depan laki-laki lain bila sekira tidak ditakutkan terjadi fitnah jinsiyah (godaan seksual), menggugah nafsu seks laki-laki yang melihat. Sedangkan Syafi`iyah juga ada yang berpendapat bahwa wajah dan telapak tangan wanita adalah aurat (bagian yang wajib ditutup) seperti yang ada dalam kitab Madzahibul Arba`ah, diperbolehkannya membuka telapak tangan dan wajah bagi wanita menurut mereka disebabkan wanita tidak bisa tidak tertuntut untuk berinteraksi dengan masyarak sekitarnya baik dengan jual beli, syahadah (persaksian sebuah kasus), berdakwah kepada masyarakatnya dan lain sebagainya, yang semuanya itu tidak akan sempurnah terlaksana apabila tidak terbuka dan kelihatan.
Ringkasnya, para ulama Islam salafy (klasik)sampai yang muashir (moderen)masih berselisih dalam hal tersebut di atas. Bagi muslimah boleh memilih pendapat yang menurut dia adalah yang paling benar dan autentik juga dengan mempertimbangkan hal lain yang lebih bermanfaat dan penting dibanding hanya menutup wajah yang hanya bertujuan menghindari fitnah jinsiyah yang masih belum bisa dipastikan bahwa hal itu memang disebabkan membuka wajah dan telapak tangan saja.
II. Imam Zamahsyari dalam Al Kasysyaf menyebutkan cara lain memakai jilbab menurut para ulama`yaitu dengan menutup bagian atas mulai dari alis mata dan memutarkan kain itu untuk menutup hidung, jadi yang kelihatan adalah kedua mata dan sekitarnya. Cara lain yaitu menutup salah satu mata dan kening dan menampakkan sebelah mata saja, cara ini lebih rapat dan lebihbisa menutupi dari pada cara yang tadi. Cara selanjutnya yang disebutkan oleh Imam Zamahsyari adalah dengan menutup wajah, dada dan memanjangkan kain jilbab itu ke bawah, dalam hal ini jilbab haruslah panjang dan tidak cukup kalau hanya menutup kepala dan leher saja tapi harus juga dada dan badan, Cara-cara di atas adalah pendapat Ulama` dalam menginterpretasikan ayat Al Qur an atau lebih tepatnya ketika menafsirkan kata idnaa`(melabuhkan jilbab atau melepasnya kebawah).
Nah,mungkin dari sinilah muncul pendapat bahwa berjilbab atau menutup kepala harus dengan kain yang panjang dan bisa menutup dada lengan dan badan selain ada baju yang sudah menutupinya, karena jilbab menurut Ibnu Abbas adalah kain panjang yang menutup semua badan, maka bila seorang wanita muslimah hanya memaki tutup kepala yang relatif kecil ukurannya yang hanya menutup kepala saja maka dia masih belum dikatakan berjilbab dan masih berdosa karena belum sempurnah dalam berjilbab seperti yang diperintahkan agama.
Namun sekali lagi menutup kepala seperti itu di atas adalah kesadaran tinggi dalam memenuhi seruan agama sebab banyak ulama` yang tidak mengharuskan cara yang demikian. Kita tidak diharuskan mengikuti pendapat salah satu Ulama` dan menyalahkan yang lain karena masalah ini adalah masalah ijtihadiyah (yang mungkin salah dan mungkin benar menurut Allah Swt) yang benar menurut Allah swt akan mendapat dua pahala, pahala ijtihad dan pahala kebenaran dalam ijtihad itu, dan bagi yang salah dalam berijtihad mendapat satu pahala yaitu pahala ijtihad itu saja, ini apabila yang berijtihad sudah memenuhi syarat-syaratnya. Adalah sebuah kesalah yaitu apabila kita memaksakan pendapat yang kita ikuti dan kita yakini benar kepada orang lain, apalagi sampai menyalahkan pendapat lain yang bertentangan tanpa tendensi pada argumen dalil yang kuat dalam Al Quran dan Hadist atau Ijma`.
Para Ulama` sepakat bahwa menutup aurat cukup dengan kain yang tidak transparan(jarang) sehingga warna kulit tidak tampak dari luar dan juga tidak ketat yang membentuk lekuk tubuh, sebab pakaian yang ketat atau yang transparan demikian tidak mungkin mencegah terjadinya fitnah jinsiyah (godaan seksual)bagi laki-laki yang memandang secara sengaja atau tidak sengaja bahkan justru sebaliknya lebih merangsang terjadinya hal tersebut, atas dasar itulah para ulama` sepakat berpendapat bahwa kain atau model pakaian yang demikian itu belum bisa digunakan menutup aurat, seperti yang dikehendaki Syariat dan Maqasidnya (tujuan penetapan suatu hukum agama) yaitu menghindari fitnah jinsiyah (godaan seksual) yang di sebabkan perempuan.
Selanjutnya kalau kita mengkaji sebab diturunkannya ayat di atas yaitu ketika orang-orang fasiq mengganggu wanita-wanita merdeka dengan berdalih tidak bisa membedakan wanita-wanita merdeka itu dari wanita-wanita budak (wanita yang bisa dimiliki dan diperjual belikan), maka kalau sebab yang demikian sudah tidak ada lagi pada masa sekarang, karena memang sedah tidak ada budak, maka itu berarti menutup dengan cara idnaa` melabuhkan ke dada dan sekitarnya agar supaya bisa dibedakan antara mereka juga sudah tidak diwajibkan lagi, adapun kalau di sana masih ada yang melakukan cara demikian dengan alasan untuk lebih berhati-hati dan berjaga-jaga dalam mencegah terjadinya fitnah jinsiyah (godaan seksual) maka adalah itu masuk dalam katagori sunnat dan tidak sampai kepada kewajiban yang harus dilaksanakan.
Namun mungkin juga ketika jilbab sudah memasyarakat sehingga banyak wanita berjilbab terlihat di mall, pasar, kantor, kampus dan lain sebagainya, namun cara mereka sudah tidak sesuai lagi dengan yang diajarkan agama, misalnya tidak sempurna bisa menutup rambut atau dengan membuka sebagian leher. Atau ada sebab lain, misalnya berjilbab hanya mengikuti trend atau untuk memikat laki-laki yang haram baginya atau disebabkan para muslimah yang berjilbab masih sering melanggar ajaran agama di tempat-tempat umum yang demikian itu bisa mengurangi dan bahkan menghancurkan wacana keluhuran dan kesucian Islam, sehingga dibutuhkan sudah saatnya dibutuhkan kelmbali adanya pilar pembeda antara yang berjilbab dengan rasa kesadaran penuh atas perintah Allah Swt dalam Al Quran dari para wanita muslimah yang hanya memakai jilbab karena hal-hal di atas tanpa memahami nilai berjilbab itu sendiri.
Mungkin di saat seperti itulah memakai jilbab dengan cara melabuhkan ke dada dan sekitarnya diwajibkan untuk mejadi pilar pembeda antara jilbab yang ngetrend dan tidak islami dari yang berjilbab yang islami dan ngetrend serta mengedepankan nilai jilbab dan tujuan disyariatkannya jilbab itu.
Asy Syaih Athiyah Shoqor (Ulama` ternama Mesir) ketika ditanya hukum seorang wanita yang cuma mengenakan penutup kepala yang bisa menutup rambut dan leher saja tanpa memanjangkan kain penutup itu ke dada dan sekitarnya, beliau menjawab dengan membagi permasalahan menutup aurat (kepala) itu menjadi tiga :
Khimar (kerudung) yaitu segala bentuk penutup kepala wanita baik itu yang panjang menutup kepala dada dan badan wanita atau yang hanya rambut dan leher saja.
Niqob atau burqo`(cadar) yaitu kain penutup wajah wanita dan ini sudah ada dan dikenal dari zaman sebelum Islam datang seperti yang tertulis di surat kejadian dalam kitab Injil. Namun kata beliau ini juga kadang disebut Khimar
Hijab (tutup) yaitu semua yang dimaksudkan untuk mengurangi dan mencegah terjadinya fitnah jinsiyah (godaan seksual) baik dengan menahan pandangan, tidak mengubah intonasi suara bicara wanita supaya terdengan lebih menarik dan menggugah, menutup aurat dan lain sebagainya, semuanya ini dinamankan hijab bagi wanita
Nah untuk jilbab atau penutup kepala yang hanya menutup rambut dan leher serta tidak ada sedikitpun cela yang menampakkan kulit wanita, maka itu adalah batas minimal dalam menutup aurat wanita.adapun apabila melabuhkan kain penutup kepala ke bawah bagian dada dan sekitarnya maka itu termasuk hukum sunat yang tidak harus dilakukan dan dilarang untuk dipaksakan pada orang lain.
Beliau juga menambahkan apabila fitnah jinsiyah itu lebih dimungkinkan dengan terbukanya wajah seorang wanita sebab terlalu cantik dan banyak mata yang memandang maka menutup wajah itu adalah wajib baginya, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan selanjutnya, dan bila kecantikan wajah wanita itu dalam stara rata-rata atau menengah ke bawah maka menutupnya adalah sunat.
Mungkin yang difatwakan oleh beliau inilah jalan keluar terbaik untuk mencapai kebenaran dan jalan tengah menempuh kesepakatan dalam masalah manutup wajah wanita dan berjilbab yang dari dulu sampai sekarang masih di persengketakan ulama` tentang cara, wajib dan tidak wajibnya.
D. Khimar (kerudung)
Al Quran juga datang dengan kata lain selain kata jilbab dalam mengutarakan penutup kepala sebagaimana yang termaktub dalam
An Nuur .31
وقل للمؤمنات ييغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن ولايبدين زينتهن الاماظهرمنهاوليضربن بخمرهن على جيونهن....(النور.31)
Artinya: Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman:Hendaklah mereka menahan pandangannya,dan memelihara kemaluannya,dan jangan menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak padanya, dan hendaklan mereka menutupkan kain kudung di dadanya..(An Nuur. 31)
Kata Khumur dalam penggalan ayat di atas bentuk jama`(plural) dari kata Khimar yang biasa diartikan dalam bahasa indonesia sebagai kerudung yang tidak lebar dan tidak panjang, sedang kalau kita melihat arti sebenarnya ketika Al Quran itu datang kepada Nabi Muhammad Saw maka Mufassirin (ulama ahli tafsir Al Quran) berbeda pendapat dan kita akan melihat sedikit reduksi atau penyempitan arti dari arti pada waktu itu. Imam Qurthubi menterjemahkan khumur secara lebih luas, yaitu semua yang menutupi kepala wanita baik itu panjang atau tidak, begitu juga dengan Imam Al Alusiy beliau menterjemahkannya dengan kata miqna`ah yang berarti tutup kepala juga, tanpa menjelaskan bentuknya panjang atau lebarnya secara kongkrit.
Ayat Al Quran di atas memerintahkan untuk memanjangkan kain penutup itu ke bagian dada yang di ambil dari kata juyuub (saku-saku baju) sehingga kalau wanita hanya memakai penutup kepala tanpa memanjangkannya ke bagian dada maka dia masih belum melaksanakan perintah ayat di atas, dengan kata lain penutup kepala menurut ayat di atas haruslah panjang menutupi dada dan sekitarnya, disamping juga ada baju muslimah yang menutupinya. Namun kalau kita teliti kata juyuub lebih lanjut dan apabila kita juga melihat sebab ayat itu diturunkan maka kita akan menemukan beberapa arti ayat (pendapat) yang dikemukakan oleh mufassir yang berbeda dengan pemahaman di atas.
Kata juyuub dalam ayat di atas juga dibaca jiyuub dalam tujuh bacaan Al Quran yang mendapat legalitas dari umat Islam dan para Ulama` dulu dan sekarang (qira`ah sab`ah), kata juyuub adalah bentuk jama`(plural) dari jaib yang berarti lubang bagian atas dari baju yang menampakkan leher dan pangkal leher. Imam Alusi menjelaskan kata jaib yang diartikan dengan lubangan untuk menaruh uang atau sejenisnya (saku baju) adalah bukan arti yang berlaku dalam pembicaraan orang arab saat Al Quran turun, sebagaimana Ibnu Taimiyah juga berpendapat yang sama, Imam Alusi juga menambahkan lagi dan berkata 징째tetapi kalaupun diartikan dengan saku juga tidaklah salah징짹 dari pembenaran dia bahwa arti jaib adalah saku tadi, Imam Alusiy artinya setuju kalau penutup kepala jilbab, kerudung atau yang lain adalah harus sampai menutup dada, meskipun beliau tidak mengungkapkannya dengan kata-kata yang jelas dan tegas tapi secara implisit beliau tidak menyalahkan pendapat itu.
Imam Bukhari dalam kitab hadist shohihnya manaruh satu bab yang berjudul
(باب جيب القميص من عندالصدروغيره)
Beliau setuju bila kata jaib diartikan dengan lubangan baju untuk menyimpan uang atau semisalnya (saku baju) tetapi sebaliknya Ibnu Hajar dalam Syarah Shahih Bukhariy (buku atau komentar kepada suatu karya tulis seorang pengarang kitab dengan berupa kesetujuan penjelasan atau ketidak setujuan atau menjelaskan maksud pengarang kitab aslinya) yang berjudul Fath Al bari, Ibn Hajar menjelaskan bahwa jaib adalah potongan dari baju sebagai tempat keluarnya kepala, tangan atau yang lain.dan banyak ulama` lain yang sependapat dengan Ibnu Hajar, sedangkan Al Ismaili mengartikan jaib itu dengan lingkaran kera baju.
Pembahasan arti kata jaib ini terasa penting karena letak saku baju tentu lebih di bawah dari pada kera atau lubangan leher baju, selanjutnya apakah penutup kepala yang hanya menutupi leher dan pangkal leher namun belum menutup sampai ke saku baju (yakni bagian dada) apakah sudah memenuhi perintah Allah Swt dalam ayat Al Quran di atas.
Dari arti jaib yang masih dipertentangkan maka arti kata Juyuub di ayat tersebut di atas juga masih belum dapat di temukan titik temunya, saku baju atau lubang kepala.sehingga bila diartikan saku maka menutup kepala dengan jilbab atau kain kerudung tidak cukup dengan yang pendek dan atau kecil tetapi harus panjang dan lebar sehingga bisa menutup tempat saku baju,Dan kalau juyuub dalam ayat di atas di artikan lubang baju untuk leher maka menutup kepala cukup memakai yang bisa menutup keseluruan aurat dengan sempurnah tanpa ada cela yang bisa menampakkan kulit serta tidak harus di panjangkan ke dada.
Namun apabila kita kembali kepada sebab diturunkannya ayat tersebut, seperti yang disebutkan dalam Lubabun Nuqul karya Imam Suyuti yaitu ketika Asma` binti Martsad sedang berada di kebun kormanya, pada saat itu datanglah wanita-wanita masuk tanpa mengenakan penutup (yang sempurna) sehingga tampaklah kaki, dada, dan ujung rambut panjang mereka, lalu berkatalah Asma` sungguh buruk sekali pemandangan ini maka turunlah ayat di atas.
Lebih terang Imam Qurtubi menjelaskan sebab ayat ini diturunkan yaitu karena wanita-wanita pada masa itu ketika metutup kepala maka mereka melepaskan dan membiarkan kain penutup kepala itu ke belakang punggungnya sehingga tidak menutup kepala lagi dan tampaklah leher dan dua telinga tanpa penutup di atasnya, oleh sebab itulah kemudian Allah Swt memerintahkan untuk melabuhkan kain jilbab ke dada sehingga leher dan telinga serta rambut mereka tertutupi, akan tetapi tetapi lebih lanjut Imam Qurtubi menjelaskan cara memakai tutup kepala, yaitu dengan menutupkan kain ke jaib (saku atau lubang leher) sehingga dada mereka juga ikut tertutupi.
Dari kedua sebab turunnya ayat di atas maka tampaknya bisa diambil kesamaan bahwa ayat di atas turun karena aurat (dalam hal ini leher, telinga dan rambut) masih belum tertutup dengan kain kerudung, sehingga turunlah ayat di atas memerintahkan untuk menutupnya, dengan kata lain, memanjangkan kain kerudung atau jilbab ke jaib (saku atau lubang leher) itu adalah cara untuk menutup aurat yang diterangkan oleh Al Quran sesuai dengan keadaan wanita-wanita masa itu, artinya bila aurat sudah tertutup tanpa harus memanjangkan kain kerudung atau jilbab ke dada maka perintah memanjangkan itu sudah tidak wajib lagi sebab memanjangkan adalah cara untuk bertujuan memuntup aurat sedang apabila tujuan yang berupa menutup aurat itu sudah tercapai tanpa memanjangkan kain itu ke dada kerana keadaan yang berbeda dan adapt yang tidak sama maka boleh-boleh saja.
Ringkasnya jaib dengan arti lubang leher adalah tafsiran yang sesuai dengan sabab turunnya ayat di atas, dan memanjangkan kain kerudung atau jilbab ke dada adalah tidak diwajibkan oleh ayat Al Quran di atas, karena yang wajib adalah menutup aurat tanpa ada sedikitpun cela yang menampakkan kulit autar wanita. Wallahu `a`lam bish shawab.
E. Aurat Wanita
Dari ayat di atas pula para ulama` juga berbeda pendapat tentang kaki sampai mata kaki, tangan sampai pegelangan dan wajah dari seorang wanita apakah itu termasuk aurat yang wajib di tutup atukah tidak(?) Yaitu ketika menafsirkan kata ziinah (perhiasan) bagi yang mengartikan dengan perhiasan yang khalqiyah (keidahnya tubuh) seperti kecantikan dan daya tarik seorang wanita, bagi kelompok ini termasuk Imam Al Qaffal kata الاماظهرمنها (kecuali yang tampak darinya) diartikan dengan anggota badan yang tampak dalam kebiasaan dan keseharian masyarakat seperti wajah dan telapak tangan karena menutup keduanya adalah dlorurat (keterpaksaan) yang bila diwajibkan akan bertentangan dengan agama Islam yang diturunkan penuh kemudahan bagi pemeluknya, oleh sebab itu tidak ada perbedaan pendapat dalam hal bolehnya membuka wajah dan telapak tangan (meski sebenarnya dalam madzhab syafi`i masih ada yang berbeda pendapat dalam hal ini, misalnya dalam kitab Azza Zawajir wajah dan telapak tangan wanita merdeka adalah aurat yang tidak boleh dibuka atau dilihat karena melihatnya bisa menimbulkan fitnah jinsiyah (godaan seksual), adapun di dalam shalat maka itu bukan aurat tetapi tetap haram untuk dibuka atau dilihat).
Sedangkan yang menafsirkan kata ziinah (perhiasan) dengan perhiasan yang biasa di pakai wanita, mulai dari yang wajib dipakai seperti baju, pakaian bawah yang lain yang digunakan menutup badan waniti sampai perhiasan yang hanya boleh dipakai wanita seperti pewarna kuku, pewarna telapak tangan, pewarna kulit, kalung, gelang, anting dan lain-lain, maka mereka (mufassir) itu mengartikan kata الاماظهرمنها dengan perhiasan-perhiasan yang biasa tampak seperti cincin, celak mata, pewarna tangan dan yang tidak mungkin untuk ditutup seperti baju, pakaian bawah bagian luar dan jilbab atau kerudung.
Dan adapun telapak kaki maka tidak termasuk yang boleh di buka karena keterpaksaan untuk membukanya dianggap tidak ada, namun yang lebih shahih (benar) menurut Imam Ar Rozi dalam tafsirnya hukum menampakkan cincin, gelang, pewarna tangan, kuku, dst adalah seperti hukum membuka kaki yaitu haram untuk dibuka sebab tidak ada kebutuhan yang memaksa untuk boleh membukanya menurut agama. Semua hal di atas adalah di luar waktu melaksanakan shalat dan selain wanita budak (wanita yang bisa dimiliki dan diperjual belikan) yaitu wanita muslimah zaman sekarang.
Adapun waktu melaksakan shalat, Madzhab Hanafi berpendapat kalau semua badan wanita adalah aurat dan termasuk di dalamnya adalah rambut yang memanjang di samping telinga kecuali telapak tangan dan bagian atas dari telapak kaki. Madzhab Syafi`i berpendapat yang sama yaitu semua anggota badan wanita ketika shalat adalah aurat yang wajib ditutup kecuali wajah telapak tangan dan telapak kaki yang dalam (yang putih). Madzhab Hambali mengecualikan wajah saja selain itu semuanya aurat termasuk telapak tangan dan kaki.
Sedangkan ulama-ulama madzhab Maliki menjelaskan bahwa dalam shalat aurat laki-laki, wanita merdeka dan budak, terbagi menjadi dua:
Aurat mugalladhah (berat), untuk laki-laki aurat ini adalah dua kemaluan depan dan belakang, sedangkan bagi wanita merdeka aurat ini adalah semua badan kecuali tangan, kaki, kepala dada dan sekitarnya (bagian belakangnya)
Aurat mukhaffafah (ringan), aurat ini untuk laki-laki adalah selain mugalladhah yang berada diantara pusar dan lutut, sedang untuk wanita merdeka adalah tangan, kaki, kepala, dada dan bagian belakangnya, dua lengan tangan, leher, kepala, dari lutut sampai akhir telapak kaki dan adapun wajah dan kedua telapak tangan (luar atau dalam) tidak termasuk aurat wanita dalam shalat baik yang mugalladhah atau yang mukhaffafah. Untuk wanita budak aurat ini adalah sebagaimana laki-laki namun di tambah pantat dan sekitarnya dan kemaluan, vulva dan bagian yang ditumbuhi rambut kemaluan itu.
Ulama-ulama madzhab Maliki juga menjelaskan bahwa apabila seorang melakukan shalat dengan tidak menutup aurat mugalladhah meskipun hanya sedikit dan dia mampu menutupnya baik membeli kain penutup atau meminjam (tidak wajib menerima penutup aurat bila penutup aurat itu diberikan dengan cara hibah pemberian murni) maka shalat yang demikian hukumnya adalah tidak sah dan batal dan apabila dia ingat kewajiban untuk menutup aurat itu maka wajib baginya untuk mengulang shalatnya ketiak dia telah siap melaksakan shalat dengan menutup aurat mugalladhah itu.
Sedangkan bila aurat mukhaffafah saja yang terbuka semua atau sebagiannya maka shalatnya tetap sah, tetapi di haramkan atau di makruhkan bila mampu untuk menutup aurat itu dengan sempurnah dan apabila telah ada penutup aurat yang sempurnah maka dia di sunnatkan untuk mengulang shalatnya (ada perincian tetacara pengulangan shalatnya (lihat madzhibul arba`ah).
F. Hijab
Al Quran juga mengungkapkan punutup seorang wanita dengan kata hijab yang artinya penutup secara umum, Allah Swt dalam surat Al Ahzab ayat 58 memerintah kepada para shahabat Nabi Saw pada waktu mereka meminta suatu barang kepada istri-istri Nabi Saw untuk memintanya dari balik hijab (tutup).
...واذاسألتموهن متاعافاسألوهن من وراءحجاب ذلكم اطهرلقلوبكم وقلوبهن...(الأحزاب.58)
Artinya; Dan bila engkau meminta sesuatu (keparluan) kepada mereka (istri-istri Nabi saw) maka mintalah dari belakang tabir,cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka징짯(Al Ahzab. 58)
Seperti yang di terangkan di atas, hijab lebih luas artinya dari kata jilbab atau khimar meskipuan ayat di atas adalah turun untuk para istri-istri Nabi Saw tapi para ulama` sepakat dalam hal ini bahwa semua wanita muslimah juga termasuk dalam ayat di atas, sehingga yang di ambil adalah umumnya arti suatu lafad atau kalimat ayat Al Quran, bukan sebab yang khusus untuk istri-istri Nabi saja.
Ayat di atas memerintahkan pada wanita muslimah untuk mengenakan penutup yang demikian itu adalah lebih baik untuk dirinya dan laki-laki lain yang sedang berkepentingan dengannya, adapun cara berhijab di atas adalah dengan berbagai cara yang bisa menutup aurat dan tidak bertentangan dengan maksud dari disyariatkannya pakaian penutup bagi wanita, sehingga kalau memakai pakaian yang sebaliknya bisa merangsang terjadinya keburukan maka itu bukan dan belum di namakan berhijab atau bertutup.
G. Penutup
Ringkasnya menutup aurat adalah kewajiban seorang wanita muslimah tepat ketika dia berikrar menjadi seorang muslimah, tidak ada menunda-nunda dalam memakainya dan tanpa pertimbangan apapun dengan cara yang minimal atau maksimal. Dengan tegas saya tekankan membuka kepala dan aurat selainya adalah haram yang tidak bisa ditawar lagi kerena ke wajiban itu adalah sudah ditetapkan dari pemahaman ayat-ayat Al Quran. Dan sudah jelas bahwa Al Quran sebagai satu-satunya yang di tinggalkan Nabi Saw kepada umatnya yang telah dijelaskan dan di dukung dengan Hadist Nabi Saw.
Wallahu a`lam bissawab
Kairo 13 agustus 2002
Oleh: Nur Faizin Muhith*
* Mahasiswa Al Azhar Kairo Mesir Tafsir dan Ilmu-ilmu Al Quran
Selasa, 27 April 2010
Isnin, 26 April 2010
Ahad, 25 April 2010
KISAH ANAK DERHAKA...LAIN SIKIT NI...!!!
Sahabat yang dirahmati Allah,
Diakhir-akhir ini akhbar arus perdana sering membawa kisah anak derhaka kepada ke dua ibu bapa mereka. Di Perlis seorang anak sanggup meninggalkan seorang bapa yang uzur dan dhaif diperhentian bas dan tidak sanggup hendak menyara kehidupannya lagi. Jabatan Kebajilkan Masyarakat terpaksa mengambilnya dan meletakkan dirumah orang tua.
Di Gemencih Negeri Sembilan seorang anak sanggup membunuh datok, nenek, bapa dan adik perempuannya kerana terpengaruh dengan bisikan syaitan yang mengarahkan pembunuhan tersebut.
Di Serdang, Selangor seorang anak perempuan dan suaminya sanggup menghalau ibu kandungnya sendiri yang berasal dari Kucing Serawak, bahkan beliau tidak mengaku bahawa wanita itu adalah ibunya.
Betapa hancur dan pilunya hati seorang ibu dan mengalir air mata kesedihan, beliau bersusah payah datang dari Serawak, dengan bekalan wang rm150 semata-mata untuk mencari anaknya yang telah menghilangkan diri selama tiga tahun, apabila telah berjumpa, tiba-tiba beliau dihalau seperti binatang dan tidak mengaku sebagai ibunya, ibu tunggal yang miskin ini terpaksa menumpang tidur dirumah kawasan perumahan berhampiran rumah anaknya kerana tidak mempunyai saudara mara disini. Orang ramai yang simpati telah memberi sumbangan untuk membeli tiket penerbangan untuk pulang ke Serawak. Inilah contoh anak derhaka zaman moden.
Kisah ini hampir-hampir sama dengan kisah lagenda Si Tanggang dan Si Malim Kundang yang mendapat balasan dari Tuhan di dunia lagi kerana derhaka kepada ibu mereka setelah mereka menjadi kaya dan menjadi orang ternama.
Nabi s.a.w bersabda yang bermaksud :" Dosa yang paling besar ialah mensyrikkan Allah , derhaka pada ibu bapa dan membunuh orang”
(Hadis riwayat Anas bin Malik)
Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud : “ Barangsiapa membuat ibu bapanya gembira (memberi keredhan), maka sesungguhnya ia membuat redha Allah. Barangsiapa menyakitkan hati ibu bapanya, maka sesungguhnya ia membuat kebencian Allah”
(Hadis riyawat Imam Bukhari )
Sahabat yang dihormati,
Di sini saya ingin membawa satu kisah benar yang berlaku di Sandakan , Sabah pada 1 September, 1994, untuk menjadi iktibar kepada kita bagaimana balasan Allah s.w.t berlaku di dunia lagi kepada anak derhaka kepada ibunya.
"Hairan saya melihat beberapa orang kampung berkumpul di kedai pada tengah hari itu. 1 September 1994. Serius mereka berbual hingga dahi berkerut-kerut. Lepas seorang bercerita yang lain menggeleng-gelengkan kepala. Pasti ada sesuatu yang ‘besar’ sedang mereka bincangkan, kata saya di dalam hati. Setelah enjin motosikal dimatikan, saya berjalan ke arah mereka.
” Bincang apa tu? Serius aku tengok,” saya menyapa.
” Haaa…Din, kau tak pergi tengok budak perempuan tak boleh keluar dari
kubur emak dia? ” kata Jaimi, kawan saya.
” Budak perempuan? Tak boleh keluar dari kubur? Aku tak faham bah,”
jawab saya. Memang saya tak faham kerana lain benar apa yang mereka katakan itu.
” Macam ni,” kata Jaimi, lalu menyambung, ” di kubur kat kampung Batu 10 tu, ada seorang budak perempuan tolong kebumikan emak dia, tapi lepas itu dia pula yang tak boleh keluar dari kubur tu. Sekarang ni orang tengah nak keluarkan dia… tapi belum boleh lagi “.
” Kenapa jadi macam tu? ” saya bertanya supaya Jaimi bercerita lebih mendalam. Patutlah serius sangat mereka berbual..
Jaimi memulakan ceritanya. Kata beliau, memandangkan semalam adalah hari kelepasan semperna Hari Kebangsaan, budak perempaun berumur belasan tahun itu meminta wang daripada ibunya untuk keluar bersama kawan-kawan ke Bandar Sandakan. Bagaimana pun, ibunya yang sudah berusia dan sakit pula enggan memberikannya wang.
” Bukannya banyak, RM 20 aja mak! ” gadis itu membentak.
” Mana emak ada duit. Mintak dengan bapa kamu,” jawab ibunya perlahan.
Sambil itu dia mengurut kakinya yang sengal. Sudah bertahun-tahun dia mengidap darah tinggi,lemah jantung dan kencing manis.
” Maaak… kawan-kawan semuanya keluar. Saya pun nak jalan jugak,” kata gadis itu.
” Yalah, mak tau… tapi mak tak ada duit,” balas ibunya.
” RM 20 aja! ” si gadis berkata.
” Tak ada,” jawab ibunya.
” Emak memang kedekut! ” si gadis mula mengeluarkan kata-kata keras.
” Bukan macam tu ta…” belum pun habis ibunya menerangkan, gadis tersebut menyanggah, katanya,
” Ahhh…sudahlah emak! Saya tak mau dengar! “
” Kalau emak ada du… ” ibunya menyambung , tapi belum pun habis kata-katanya, si gadis memintas lagi, katanya ;
” kalau abang, boleh, tapi kalau saya minta duit, mesti tak ada! “
Serentak dengan itu, gadis tersebut menyepak ibunya dan menolaknya ke pintu. Si ibu jatuh ke lantai.
” Saida.. Sai.. dddaaa..” katanya perlahan sambil mengurut dada.
Wajahnya berkerut menahan sakit.
Gadis tersebut tidak menghiraukan ibunya yang terkulai di lantai. Dia masuk ke bilik dan berkurung tanda protes. Di dalam bilik, dibalingnya bantal dan selimut ke dinding. Dan sementara di luar, suasana sunyi sepi.
Hampir sejam kemudian, barulah gadis tersebut keluar. Alangkah terkejutnya dia kerana ibunya tidak bergerak lagi. Bila dipegang ke pergelangan tangan di bawah leher, tidak ada lagi nadi berdenyut. Si gadis panik. Dia meraung dan menangis memanggil ibunya,tapi tidak bersahut. Meraung si gadis melihat mayat ibunya itu. Melalui jiran-jiran, kematian wanita itu diberitahu kepada bapa gadis yang bekerja di luar.
Jaimi menyambung ceritanya; ” Mak cik tu dibawa ke kubur pukul 12.30 pm tadi.
Pada mulanya tak ada apa-apa yang pelik, tapi bila mayatnya nak dimasukkan ke dalam kubur, ia jadi berat sampai dekat 10 orang pun tak terdaya nak masukkannya ke dalam kubur. Suaminya sendiri pun tak dapat bantu.”
” Tapi bila budak perempuan tu tolong, mayat ibunya serta-merta jadi ringan. Dia seorang pun boleh angkat dan letak mayat ibunya di tepi kubur.”
Kemudian gadis berkenaan masuk ke dalam kubur untuk menyambut jenazah ibunya. Sekali lagi beramai-ramai penduduk kampung mengangkat mayat tersebut dan menyerahkannya kepada gadis berkenaan. Tanpa bersusah payah, gadis itu memasukkan mayat ibunya ke dalam lahad. Namun apabila dia hendak memanjat keluar dari kubur tersebut, tiba-tiba kakinya tidak boleh diangkat. Ia seperti dipaku ke tanah. Si gadis mula cemas.
” Kenapa ni ayah? ” kata si gadis. Wajahnya serta-merta pucat lesi.
” Apa pasal,” Si ayah bertanya.
” Kaki Saida ni.. tak boleh angkat! ” balas si gadis yang kian cemas.
Orang ramai yang berada di sekeliling kubur mula riuh. Seorang demi seorang menjenguk untuk melihat apa yang sedang berlaku.” Ayah, tarik tangan saya ni. Kaki saya terlekat……. tak boleh nak naik,”
Gadis tersebut menghulurkan tangan ke arah bapanya. Si bapa menarik tangan anaknya itu, tetapi gagal. Kaki gadis tersebut melekat kuat ke tanah. Beberapa orang lagi dipanggil untuk menariknya keluar, juga tidak berhasil.
" Ayah…kenapa ni??!! Tolonglah Saida, ayah..” si gadis menangis memandang ayah dan adik-beradiknya yang bertinggung di pinggir kubur.
Semakin ramai orang berpusu ke pinggir kubur. Mereka cuba menariknya beramai-ramai namun sudah ketentuan Allah, kaki si gadis tetap terpasak di tanah. Tangisannya bertambah kuat.
” Tolong saya ayah, tolong saya…….kenapa jadi macam ni ayah? ” kata si gadis sambil meratap.
” Itulah, kamu yang buat emak sampai dia meninggal. Sekarang, ayah pun tak tau nak buat macam mana,” jawab si ayah selepas gagal mengeluarkan anaknya itu.
Dia menarik lagi tangan gadis yang berada di dalam kubur tapi tidak berganjak walau seinci pun. Kakinya tetap terpahat ke tanah.
” Emak…ampunkan Saida emak, ampunkan Saida…” gadis itu menangis. Sambil itu dipeluk dan dicium jenazah kiblat. Air matanya sudah tidak boleh diempang lagi.
” Maafkan Saida emak, maafkan , Saida bersalah, Saida menyesal… Saida menyesal…… Ampunkan Saida emak,” dia menangis lagi sambil memeluk jenazah ibunya yang telah kaku.
Kemudian gadis itu menghulurkan lagi tangannya supaya boleh di tarik keluar. Beramai-ramai orang cubamengeluarkannya namun kecewa. Apabila terlalu lama mencuba tetapi gagal, imam membuat keputusan bahawa kubur tersebut perlu dikambus.
” Kita kambus sedikit saja, sampai mayat ibunya tak dapat dilihat lagi.
Kita tak boleh biarkan mayatnya macam tu aja… kalau hujan macam mana?“ kata imam kepada bapa gadis berkenaan.
” Habis anak saya ?” tanya si bapa.
” Kita akan terus cuba tarik dia keluar. Kita buat dua-dua sekali, mayat isteri awak disempurnakan, anak awak kita selamatkan,” balas imam.
Lelaki berkenaan bersetuju. Lalu seperti yang diputuskan,upacara pengebumian terpaksa diteruskan sehingga selesai, termasuk talkinnya. Bagaimana pun kubur dikambus separas lutut gadis saja, cukup untuk menimbus keseluruhan jenazah ibunya. Yang menyedihkan, ketika itu si gadis masih di dalam kubur. Bila talkin dibaca, dia menangis dan meraung kesedihan. Sambil itu dia meminta ampun kepada ibunya dengan linangan air mata. Selesai upacara itu, orang ramai berusaha lagi menariknya keluar. Tapi tidak berhasil.
Untuk diringkaskan cerita,embun mula menitis. Saida kesejukan pula. Dengan selimut yang diberi oleh bapanya dia berkelubung. Namun dia tidak dapat tidur. Saida menangis dan merayu kepada Allah supaya mengampunkan dosanya. Begitulah yang berlaku keesokannya. Orang ramai pula tidak susut mengerumuni perkuburan itu. Walaupun tidak dapat melihat gadis berkenaan tapi mereka puas jika dapat bersesak-sesak dan mendengar orang-orang bercerita.
Setelah empat atau lima hari terperangkap, akhirnya Saida meninggal dunia. Mungkin kerana terlalu lemah dan tidak tahan di bakar kepanasan matahari pada waktu siang dan kesejukan di malam hari. Mungkin juga kerana tidak makan dan minum. Atau mungkin juga kerana terlalu sedih sangat dengan apa yang dilakukannya.
Allah Maha Agung…sebaik Saida menghembuskan nafas terakhir, barulah tubuhnya dapat di keluarkan. Mayat gadis itu kemudian disempurnakan seperti mayat-mayat lain. Kuburnya kini di penuhi lalang. Di bawah redup daun kelapa yang melambai-lambai, tiada siapa tahu di situ bersemadi seorang gadis yang derhaka."
Sahabat yang dimuliakan,
Di dunia lagi Allah s.w.t. akan membalas dan menghukum setiap anak yang derhaka kepada ke dua ibu bapanya. Di akhiratnanti hukuman Allah lagi dahsyat sehingga anak yang derhaka ini tidak akan dapat mencium bau Syurga.
Nabi s.a.w. berwasiat kepada Sayyidina Ali k.w : "Wahai Ali ! Saya melihat tulisan pada pintu Syurga yang berbunyi "Syurga itu diharamkan bagi setiap orang yang bakhil (kedekut), orang yang derhaka kepada kedua orang tuanya, dan bagi orang yang suka mengadu domba (mengasut)."
Firman Allah s.w.t.yang bermaksud :
"Dan kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung hingga akhir menyusunya) dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun;(dengan yang demikian) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapamu; dan (ingatlah), kepada Akulah jua tempat kembali (untuk menerima balasan)."
(Surah al-Luqman ayat 14)
Oleh itu marilah sama-sama kita tingkatkan iman dan takwa kita untuk menghormati dan mengasihi ibu bapa kita yang telah membesarkan kita dan dibelai dengan penoh kasih sayang.Jika mereka masih hidup ziarahlah mereka dan tunjukkanlah kasih sayang kita yang tak berbelah bagi. Jika ibu bapa kita telah meninggal dunia banyakkanlah berdo'a dan memohonkan keampunan daripada Allah s.w.t. kepada ibu bapa kita.
Seorang dari suku Bani Salimah datang dan bertanya kepada Rasulullah s.a.w, "Kedua orang tuaku telah mati, apakah ada cara untuk aku berbakti kepada mereka?"
Jawab Nabi s.a.w, "Ya, membaca istighfar untuk kedua mereka, melaksanakan wasiat mereka, menghormati sahabat-sahabat mereka, dan menghubungkan keluarga mereka."
~ Ehsan Ustz. Abu Basyer ~
Syukran ya Syeikh...
Diakhir-akhir ini akhbar arus perdana sering membawa kisah anak derhaka kepada ke dua ibu bapa mereka. Di Perlis seorang anak sanggup meninggalkan seorang bapa yang uzur dan dhaif diperhentian bas dan tidak sanggup hendak menyara kehidupannya lagi. Jabatan Kebajilkan Masyarakat terpaksa mengambilnya dan meletakkan dirumah orang tua.
Di Gemencih Negeri Sembilan seorang anak sanggup membunuh datok, nenek, bapa dan adik perempuannya kerana terpengaruh dengan bisikan syaitan yang mengarahkan pembunuhan tersebut.
Di Serdang, Selangor seorang anak perempuan dan suaminya sanggup menghalau ibu kandungnya sendiri yang berasal dari Kucing Serawak, bahkan beliau tidak mengaku bahawa wanita itu adalah ibunya.
Betapa hancur dan pilunya hati seorang ibu dan mengalir air mata kesedihan, beliau bersusah payah datang dari Serawak, dengan bekalan wang rm150 semata-mata untuk mencari anaknya yang telah menghilangkan diri selama tiga tahun, apabila telah berjumpa, tiba-tiba beliau dihalau seperti binatang dan tidak mengaku sebagai ibunya, ibu tunggal yang miskin ini terpaksa menumpang tidur dirumah kawasan perumahan berhampiran rumah anaknya kerana tidak mempunyai saudara mara disini. Orang ramai yang simpati telah memberi sumbangan untuk membeli tiket penerbangan untuk pulang ke Serawak. Inilah contoh anak derhaka zaman moden.
Kisah ini hampir-hampir sama dengan kisah lagenda Si Tanggang dan Si Malim Kundang yang mendapat balasan dari Tuhan di dunia lagi kerana derhaka kepada ibu mereka setelah mereka menjadi kaya dan menjadi orang ternama.
Nabi s.a.w bersabda yang bermaksud :" Dosa yang paling besar ialah mensyrikkan Allah , derhaka pada ibu bapa dan membunuh orang”
(Hadis riwayat Anas bin Malik)
Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud : “ Barangsiapa membuat ibu bapanya gembira (memberi keredhan), maka sesungguhnya ia membuat redha Allah. Barangsiapa menyakitkan hati ibu bapanya, maka sesungguhnya ia membuat kebencian Allah”
(Hadis riyawat Imam Bukhari )
Sahabat yang dihormati,
Di sini saya ingin membawa satu kisah benar yang berlaku di Sandakan , Sabah pada 1 September, 1994, untuk menjadi iktibar kepada kita bagaimana balasan Allah s.w.t berlaku di dunia lagi kepada anak derhaka kepada ibunya.
"Hairan saya melihat beberapa orang kampung berkumpul di kedai pada tengah hari itu. 1 September 1994. Serius mereka berbual hingga dahi berkerut-kerut. Lepas seorang bercerita yang lain menggeleng-gelengkan kepala. Pasti ada sesuatu yang ‘besar’ sedang mereka bincangkan, kata saya di dalam hati. Setelah enjin motosikal dimatikan, saya berjalan ke arah mereka.
” Bincang apa tu? Serius aku tengok,” saya menyapa.
” Haaa…Din, kau tak pergi tengok budak perempuan tak boleh keluar dari
kubur emak dia? ” kata Jaimi, kawan saya.
” Budak perempuan? Tak boleh keluar dari kubur? Aku tak faham bah,”
jawab saya. Memang saya tak faham kerana lain benar apa yang mereka katakan itu.
” Macam ni,” kata Jaimi, lalu menyambung, ” di kubur kat kampung Batu 10 tu, ada seorang budak perempuan tolong kebumikan emak dia, tapi lepas itu dia pula yang tak boleh keluar dari kubur tu. Sekarang ni orang tengah nak keluarkan dia… tapi belum boleh lagi “.
” Kenapa jadi macam tu? ” saya bertanya supaya Jaimi bercerita lebih mendalam. Patutlah serius sangat mereka berbual..
Jaimi memulakan ceritanya. Kata beliau, memandangkan semalam adalah hari kelepasan semperna Hari Kebangsaan, budak perempaun berumur belasan tahun itu meminta wang daripada ibunya untuk keluar bersama kawan-kawan ke Bandar Sandakan. Bagaimana pun, ibunya yang sudah berusia dan sakit pula enggan memberikannya wang.
” Bukannya banyak, RM 20 aja mak! ” gadis itu membentak.
” Mana emak ada duit. Mintak dengan bapa kamu,” jawab ibunya perlahan.
Sambil itu dia mengurut kakinya yang sengal. Sudah bertahun-tahun dia mengidap darah tinggi,lemah jantung dan kencing manis.
” Maaak… kawan-kawan semuanya keluar. Saya pun nak jalan jugak,” kata gadis itu.
” Yalah, mak tau… tapi mak tak ada duit,” balas ibunya.
” RM 20 aja! ” si gadis berkata.
” Tak ada,” jawab ibunya.
” Emak memang kedekut! ” si gadis mula mengeluarkan kata-kata keras.
” Bukan macam tu ta…” belum pun habis ibunya menerangkan, gadis tersebut menyanggah, katanya,
” Ahhh…sudahlah emak! Saya tak mau dengar! “
” Kalau emak ada du… ” ibunya menyambung , tapi belum pun habis kata-katanya, si gadis memintas lagi, katanya ;
” kalau abang, boleh, tapi kalau saya minta duit, mesti tak ada! “
Serentak dengan itu, gadis tersebut menyepak ibunya dan menolaknya ke pintu. Si ibu jatuh ke lantai.
” Saida.. Sai.. dddaaa..” katanya perlahan sambil mengurut dada.
Wajahnya berkerut menahan sakit.
Gadis tersebut tidak menghiraukan ibunya yang terkulai di lantai. Dia masuk ke bilik dan berkurung tanda protes. Di dalam bilik, dibalingnya bantal dan selimut ke dinding. Dan sementara di luar, suasana sunyi sepi.
Hampir sejam kemudian, barulah gadis tersebut keluar. Alangkah terkejutnya dia kerana ibunya tidak bergerak lagi. Bila dipegang ke pergelangan tangan di bawah leher, tidak ada lagi nadi berdenyut. Si gadis panik. Dia meraung dan menangis memanggil ibunya,tapi tidak bersahut. Meraung si gadis melihat mayat ibunya itu. Melalui jiran-jiran, kematian wanita itu diberitahu kepada bapa gadis yang bekerja di luar.
Jaimi menyambung ceritanya; ” Mak cik tu dibawa ke kubur pukul 12.30 pm tadi.
Pada mulanya tak ada apa-apa yang pelik, tapi bila mayatnya nak dimasukkan ke dalam kubur, ia jadi berat sampai dekat 10 orang pun tak terdaya nak masukkannya ke dalam kubur. Suaminya sendiri pun tak dapat bantu.”
” Tapi bila budak perempuan tu tolong, mayat ibunya serta-merta jadi ringan. Dia seorang pun boleh angkat dan letak mayat ibunya di tepi kubur.”
Kemudian gadis berkenaan masuk ke dalam kubur untuk menyambut jenazah ibunya. Sekali lagi beramai-ramai penduduk kampung mengangkat mayat tersebut dan menyerahkannya kepada gadis berkenaan. Tanpa bersusah payah, gadis itu memasukkan mayat ibunya ke dalam lahad. Namun apabila dia hendak memanjat keluar dari kubur tersebut, tiba-tiba kakinya tidak boleh diangkat. Ia seperti dipaku ke tanah. Si gadis mula cemas.
” Kenapa ni ayah? ” kata si gadis. Wajahnya serta-merta pucat lesi.
” Apa pasal,” Si ayah bertanya.
” Kaki Saida ni.. tak boleh angkat! ” balas si gadis yang kian cemas.
Orang ramai yang berada di sekeliling kubur mula riuh. Seorang demi seorang menjenguk untuk melihat apa yang sedang berlaku.” Ayah, tarik tangan saya ni. Kaki saya terlekat……. tak boleh nak naik,”
Gadis tersebut menghulurkan tangan ke arah bapanya. Si bapa menarik tangan anaknya itu, tetapi gagal. Kaki gadis tersebut melekat kuat ke tanah. Beberapa orang lagi dipanggil untuk menariknya keluar, juga tidak berhasil.
" Ayah…kenapa ni??!! Tolonglah Saida, ayah..” si gadis menangis memandang ayah dan adik-beradiknya yang bertinggung di pinggir kubur.
Semakin ramai orang berpusu ke pinggir kubur. Mereka cuba menariknya beramai-ramai namun sudah ketentuan Allah, kaki si gadis tetap terpasak di tanah. Tangisannya bertambah kuat.
” Tolong saya ayah, tolong saya…….kenapa jadi macam ni ayah? ” kata si gadis sambil meratap.
” Itulah, kamu yang buat emak sampai dia meninggal. Sekarang, ayah pun tak tau nak buat macam mana,” jawab si ayah selepas gagal mengeluarkan anaknya itu.
Dia menarik lagi tangan gadis yang berada di dalam kubur tapi tidak berganjak walau seinci pun. Kakinya tetap terpahat ke tanah.
” Emak…ampunkan Saida emak, ampunkan Saida…” gadis itu menangis. Sambil itu dipeluk dan dicium jenazah kiblat. Air matanya sudah tidak boleh diempang lagi.
” Maafkan Saida emak, maafkan , Saida bersalah, Saida menyesal… Saida menyesal…… Ampunkan Saida emak,” dia menangis lagi sambil memeluk jenazah ibunya yang telah kaku.
Kemudian gadis itu menghulurkan lagi tangannya supaya boleh di tarik keluar. Beramai-ramai orang cubamengeluarkannya namun kecewa. Apabila terlalu lama mencuba tetapi gagal, imam membuat keputusan bahawa kubur tersebut perlu dikambus.
” Kita kambus sedikit saja, sampai mayat ibunya tak dapat dilihat lagi.
Kita tak boleh biarkan mayatnya macam tu aja… kalau hujan macam mana?“ kata imam kepada bapa gadis berkenaan.
” Habis anak saya ?” tanya si bapa.
” Kita akan terus cuba tarik dia keluar. Kita buat dua-dua sekali, mayat isteri awak disempurnakan, anak awak kita selamatkan,” balas imam.
Lelaki berkenaan bersetuju. Lalu seperti yang diputuskan,upacara pengebumian terpaksa diteruskan sehingga selesai, termasuk talkinnya. Bagaimana pun kubur dikambus separas lutut gadis saja, cukup untuk menimbus keseluruhan jenazah ibunya. Yang menyedihkan, ketika itu si gadis masih di dalam kubur. Bila talkin dibaca, dia menangis dan meraung kesedihan. Sambil itu dia meminta ampun kepada ibunya dengan linangan air mata. Selesai upacara itu, orang ramai berusaha lagi menariknya keluar. Tapi tidak berhasil.
Untuk diringkaskan cerita,embun mula menitis. Saida kesejukan pula. Dengan selimut yang diberi oleh bapanya dia berkelubung. Namun dia tidak dapat tidur. Saida menangis dan merayu kepada Allah supaya mengampunkan dosanya. Begitulah yang berlaku keesokannya. Orang ramai pula tidak susut mengerumuni perkuburan itu. Walaupun tidak dapat melihat gadis berkenaan tapi mereka puas jika dapat bersesak-sesak dan mendengar orang-orang bercerita.
Setelah empat atau lima hari terperangkap, akhirnya Saida meninggal dunia. Mungkin kerana terlalu lemah dan tidak tahan di bakar kepanasan matahari pada waktu siang dan kesejukan di malam hari. Mungkin juga kerana tidak makan dan minum. Atau mungkin juga kerana terlalu sedih sangat dengan apa yang dilakukannya.
Allah Maha Agung…sebaik Saida menghembuskan nafas terakhir, barulah tubuhnya dapat di keluarkan. Mayat gadis itu kemudian disempurnakan seperti mayat-mayat lain. Kuburnya kini di penuhi lalang. Di bawah redup daun kelapa yang melambai-lambai, tiada siapa tahu di situ bersemadi seorang gadis yang derhaka."
Sahabat yang dimuliakan,
Di dunia lagi Allah s.w.t. akan membalas dan menghukum setiap anak yang derhaka kepada ke dua ibu bapanya. Di akhiratnanti hukuman Allah lagi dahsyat sehingga anak yang derhaka ini tidak akan dapat mencium bau Syurga.
Nabi s.a.w. berwasiat kepada Sayyidina Ali k.w : "Wahai Ali ! Saya melihat tulisan pada pintu Syurga yang berbunyi "Syurga itu diharamkan bagi setiap orang yang bakhil (kedekut), orang yang derhaka kepada kedua orang tuanya, dan bagi orang yang suka mengadu domba (mengasut)."
Firman Allah s.w.t.yang bermaksud :
"Dan kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung hingga akhir menyusunya) dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun;(dengan yang demikian) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapamu; dan (ingatlah), kepada Akulah jua tempat kembali (untuk menerima balasan)."
(Surah al-Luqman ayat 14)
Oleh itu marilah sama-sama kita tingkatkan iman dan takwa kita untuk menghormati dan mengasihi ibu bapa kita yang telah membesarkan kita dan dibelai dengan penoh kasih sayang.Jika mereka masih hidup ziarahlah mereka dan tunjukkanlah kasih sayang kita yang tak berbelah bagi. Jika ibu bapa kita telah meninggal dunia banyakkanlah berdo'a dan memohonkan keampunan daripada Allah s.w.t. kepada ibu bapa kita.
Seorang dari suku Bani Salimah datang dan bertanya kepada Rasulullah s.a.w, "Kedua orang tuaku telah mati, apakah ada cara untuk aku berbakti kepada mereka?"
Jawab Nabi s.a.w, "Ya, membaca istighfar untuk kedua mereka, melaksanakan wasiat mereka, menghormati sahabat-sahabat mereka, dan menghubungkan keluarga mereka."
~ Ehsan Ustz. Abu Basyer ~
Syukran ya Syeikh...
Rabu, 3 Mac 2010
NASIHAT LUKHMANULHAKIM PADA ANAKNYA....
NASIHAT LUKMANULHAKIM KEPADA ANAKNYA
1 – Wahai anakku, elakkan dirimu dari berhutang, kerana sesungguhnya berhutang itu akan menjadikan dirimu hina di waktu siang dan gelisah di waktu malam.
2 – Wahai anakku, sekiranya ibubapa mu marah kepadamu kerana kesilapan yang telah kamu lakukan, maka kemarahan ibubapamu adalah seperti baja untuk menyuburkan tanam tanaman.... Lihat seterusnya..
3 – Wahai anakku, jika kamu mahu mencari kawan sejati, maka ujilah dia terlebih dahulu dengan berpura pura membuatkan dia marah padamu. Sekiranya dalam kemarahan itu dia masih mahu menasihati dan menginsafkan kamu, maka bolehlah kamu mengambil dia sebagai kawan. Jika berlaku sebaliknya maka berwaspadalah kamu terhadapnya.
4 – Wahai anakku, bila kamu mempunyai teman karib, maka jadikanlah dirimu padanya sebagai orang yang tidak mengharapkan sesuatu daripadanya. Sebaliknya biarkanlah dia yang mengharapkan sesuatu darimu.
5 – Wahai anakku, jagalah dirimu supaya tidak terlalu condong kepada dunia dan hatimu selalu disusahkan olah dunia saja kerana kamu diciptakan Allah bukanlah untuk dunia sahaja. Sesungguhnya tiada makhluk yang lebih hina daripada orang yang terpedaya dengan dunia.
6 – Wahai anakku, janganlah kamu ketawa jika tiada sesuatu yang menggelikan, janganlah kamu berjalan tanpa tujuan yang pasti, janganlah kamu bertanya sesuatu yang tidak ada guna bagimu, janganlah mensia siakan harta mu pada jalan maksiat.
7 – Wahai anakku, sesiapa yang bersifat penyayang tentu akan disayangi, sesiapa yang pendiam akan selamat daripada mengeluarkan perkataan yang sia-sia, dan sesiapa yang tidak dapat menahan lidahnya dari berkata kotor tentu dia akan menyesal kelak.
8 – Wahai anakku, bergaullah dengan orang yang soleh dan berilmu. Bukalah pintu hati mu dan dengarkanlah segala nasihat dan tunjuk ajar darinya. Sesungguhnya nasihat dari mereka bagaikan mutiara hikmah yang bercahaya yang dapat menyuburkan hatimu seperti tanah kering lalu disirami hujan.
9 – Wahai anakku, sesungguhnya dunia ini bagaikan sebuah kapal yang belayar di lautan yang dalam, banyak manusia yang karam ke dalamnya. Jika engkau ingin selamat, maka belayarlah dengan kapal yang bernama ‘taqwa’, isinya ialah ‘iman‘ dan layarnya adalah ‘tawakkal kepada Allah’.
10 – Wahai anakku, jika kamu mempunyai dua undangan majlis, iaitu majlis takziah kematian atau majlis perkahwinan, maka utamakanlah majlis kematian, kerana ianya akan mengingatkanmu kepada kampung akhirat sedangkan menghadiri majlis perkahwinan hanya mengingatkan dirimu kepada keseronokan duniawi sahaja.
11 – Wahai anakku, janganlah kamu terus menelan apa sahaja yang kamu rasa manis janganlah terus meludah sahaja apa yang kamu rasa pahit, kerana manis belum tentu menimbulkan kesegaran dan pahit itu belum tentu menimbulkan kelemahan.
12 – Wahai anakku, janganlah kamu makan sampai kenyang yang berlebihan, kerana sesungguhnya adalah lebih baik jika bahagian dari yang kenyang itu diberikan kepada anjing sahaja.
13 – Wahai anakku, janganlah kamu menjadi lebih lemah dari seekor ayam jantan, kerana ia telah berkokok pada waktu pagi hari sedangkan kamu pada waktu itu masih terbaring di atas katilmu.
14 – Wahai anakku, jangan kamu melantik seseorang yang bodoh menjadi utusanmu. Jika tiada siapa yang lebih cerdas, pintar dan bijak maka sebaiknya dirimu sendirilah yang menjadi utusan.
15 – Wahai anakku, orang yang bersedia untuk mendengar nasihat dan bimbingan dari orang yang lebih alim, maka dia layak untuk mendapat penjagaan dari Allah tetapi bagi orang yang insaf setelah menerima teguran maka dia lebih layak untuk mendapat kemuliaan dari Allah.
16 – Wahai anakku, orang yang merasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadat dan taat kepada Allah, maka dia tawadduk kepada Allah, dia akan lebih dekat kepada Allah dan selalu berusaha menghindarkan maksiat kepada Allah.
17 – Wahai anakku, seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya kerana tidak dipercayai orang dan seorang yang telah rosak akhlaknya akan sentiasa banyak melamunkan hal hal yang tidak benar. Ketahuilah, memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih mudah daripada memberi pengertian kepada orang yang tidak mahu mengerti.
18 – Wahai anakku, kamu telah merasakan betapa beratnya mengangkat batu besar dan besi yang amat berat, tetapi akan lebih lagi daripada semua itu, adalah bilamana kamu mempunyai jiran yang jahat.
19 – Wahai anakku, jauhilah bersifat dusta, sebab dusta itu mudah dilakukan, bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit sahaja berdusta itu telah memberikan akibat yang berbahaya.
20 – Wahai anakku, bukanlah satu kebaikan namanya bila mana kamu selalu mencari ilmu tetapi kamu tidak pernah mengamalkannya. Hal itu tidak ubah bagaikan orang yang mencari kayu bakar, maka setelah banyak ia tidak mampu memikulnya, padahal ia masih mahu menambahkannya.
21 – Wahai anakku, jadikanlah dirimu dalam segala tingkahlaku sebagai orang yang tidak ingin menerima pujian atau mengharap sanjungan orang lain kerana itu adalah sifat riya yang akan mendatangkan cela pada dirimu.
22 – Wahai anakku, ambillah harta dunia sekadar keperluanmu sahaja, dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk bekalan akhiratmu. Jangan engkau tendang dunia ini ke keranjang atau bakul sampah kerana nanti engkau akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain. Sebaliknya janganlah engkau peluk dunia ini serta meneguk habis airnya kerana sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka. Janganlah engkau bertemankan dengan orang yang bersifat talam dua muka, kelak akan membinasakan dirimu.
23 – Wahai anakku, apabila kamu menghampiri kediaman sesuatu kaum, ucaplah salam. Kemudian duduklah ditempat yang telah disediakan oleh mereka. Jangan mulakan perbualan sehingga mereka mulakannya. Sekiranya mereka suka berzikir maka sertailah mereka, jika sebaliknya maka jauhilah mereka dan sertailah kelompok lain.
24 – Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah, orang lain tidak akan tahu engkau takut kepada Allah s.w.t hanya untuk dihormati, sedangkan hatimu menyimpang daripada kebenaran.
25 – Wahai anakku, janganlah engkau terlalu menyayangi orang jahil kerana dia akan menganggap kamu bersetuju dengan perbuatannya. Janganlah engkau menghina sesuatu yang dibenci oleh orang bijaksana kerana dia akan terus meninggalkanmu.
26 – Wahai anakku, ketahuilah bahawa kekuasaan berada pada mulut orang-orang yang bijaksana. Mereka tidak berkata-kata melainkan dengan apa yang dikurniakan Allah s.w.t
27 – Wahai anakku, janganlah engkau menyesal kerana berdiam sahaja. Sesungguhnya percakapan itu berharga perak, sedangkan berdiam diri berharga emas.
28 – Wahai anakku, hindarilah dirimu daripada kejahatan, nescaya ia akan menjauhimu. Sesungguhnya kejahatan itu untuk sejahat-jahat makhluk.
29 – Wahai anakku, pilihlah majlis-majlis yang mengingati Allah, sertailah mereka, sekiranya engkau seorang yang berilmu engkau dapat memanfaatkan ilmumu. Sekiranya engkau seorang yang bodoh mereka akan mengajarmu. Allah akan merahmatimu dan juga mereka. Wahai anakku janganlah engkau menyertai majlis-majlis yang tidak mengingati Allah, sekiranya engkau seorang yang berilmu, engkau tidak dapat memanfaatkannya. Sekiranya engkau seorang yang bodoh, engkau akan bertambah bodoh. Allah akan murka kepadamu dan kepada mereka.
30 – Wahai anakku, janganlah engkau makan makanan yang tidak bersih. Bermesyuaratlah dalam urusanmu yang berbentuk ilmu.
31 – Wahai anakku, janganlah beriri hati dan tanding menandingi kerana ia meluaskan medan pertumpahan darah orang yang beriman. Pertumpahan darah dianggap oleh Allah sebagai pembunuhan, bukan kematian.
32 – Wahai anakku, sesungguhnya kebijaksaaan itu meletakkan orang miskin pada taraf raja-raja.
33 – Wahai anakku, hendaklah kamu ingat kebaikan orang dan lupa kejahatan orang. Dan hendaklah kamu lupa kebaikan kamu terhadap orang dan ingatlah kejahatan yang kamu lakukan kepada orang
2 – Wahai anakku, sekiranya ibubapa mu marah kepadamu kerana kesilapan yang telah kamu lakukan, maka kemarahan ibubapamu adalah seperti baja untuk menyuburkan tanam tanaman.... Lihat seterusnya..
3 – Wahai anakku, jika kamu mahu mencari kawan sejati, maka ujilah dia terlebih dahulu dengan berpura pura membuatkan dia marah padamu. Sekiranya dalam kemarahan itu dia masih mahu menasihati dan menginsafkan kamu, maka bolehlah kamu mengambil dia sebagai kawan. Jika berlaku sebaliknya maka berwaspadalah kamu terhadapnya.
4 – Wahai anakku, bila kamu mempunyai teman karib, maka jadikanlah dirimu padanya sebagai orang yang tidak mengharapkan sesuatu daripadanya. Sebaliknya biarkanlah dia yang mengharapkan sesuatu darimu.
5 – Wahai anakku, jagalah dirimu supaya tidak terlalu condong kepada dunia dan hatimu selalu disusahkan olah dunia saja kerana kamu diciptakan Allah bukanlah untuk dunia sahaja. Sesungguhnya tiada makhluk yang lebih hina daripada orang yang terpedaya dengan dunia.
6 – Wahai anakku, janganlah kamu ketawa jika tiada sesuatu yang menggelikan, janganlah kamu berjalan tanpa tujuan yang pasti, janganlah kamu bertanya sesuatu yang tidak ada guna bagimu, janganlah mensia siakan harta mu pada jalan maksiat.
7 – Wahai anakku, sesiapa yang bersifat penyayang tentu akan disayangi, sesiapa yang pendiam akan selamat daripada mengeluarkan perkataan yang sia-sia, dan sesiapa yang tidak dapat menahan lidahnya dari berkata kotor tentu dia akan menyesal kelak.
8 – Wahai anakku, bergaullah dengan orang yang soleh dan berilmu. Bukalah pintu hati mu dan dengarkanlah segala nasihat dan tunjuk ajar darinya. Sesungguhnya nasihat dari mereka bagaikan mutiara hikmah yang bercahaya yang dapat menyuburkan hatimu seperti tanah kering lalu disirami hujan.
9 – Wahai anakku, sesungguhnya dunia ini bagaikan sebuah kapal yang belayar di lautan yang dalam, banyak manusia yang karam ke dalamnya. Jika engkau ingin selamat, maka belayarlah dengan kapal yang bernama ‘taqwa’, isinya ialah ‘iman‘ dan layarnya adalah ‘tawakkal kepada Allah’.
10 – Wahai anakku, jika kamu mempunyai dua undangan majlis, iaitu majlis takziah kematian atau majlis perkahwinan, maka utamakanlah majlis kematian, kerana ianya akan mengingatkanmu kepada kampung akhirat sedangkan menghadiri majlis perkahwinan hanya mengingatkan dirimu kepada keseronokan duniawi sahaja.
11 – Wahai anakku, janganlah kamu terus menelan apa sahaja yang kamu rasa manis janganlah terus meludah sahaja apa yang kamu rasa pahit, kerana manis belum tentu menimbulkan kesegaran dan pahit itu belum tentu menimbulkan kelemahan.
12 – Wahai anakku, janganlah kamu makan sampai kenyang yang berlebihan, kerana sesungguhnya adalah lebih baik jika bahagian dari yang kenyang itu diberikan kepada anjing sahaja.
13 – Wahai anakku, janganlah kamu menjadi lebih lemah dari seekor ayam jantan, kerana ia telah berkokok pada waktu pagi hari sedangkan kamu pada waktu itu masih terbaring di atas katilmu.
14 – Wahai anakku, jangan kamu melantik seseorang yang bodoh menjadi utusanmu. Jika tiada siapa yang lebih cerdas, pintar dan bijak maka sebaiknya dirimu sendirilah yang menjadi utusan.
15 – Wahai anakku, orang yang bersedia untuk mendengar nasihat dan bimbingan dari orang yang lebih alim, maka dia layak untuk mendapat penjagaan dari Allah tetapi bagi orang yang insaf setelah menerima teguran maka dia lebih layak untuk mendapat kemuliaan dari Allah.
16 – Wahai anakku, orang yang merasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadat dan taat kepada Allah, maka dia tawadduk kepada Allah, dia akan lebih dekat kepada Allah dan selalu berusaha menghindarkan maksiat kepada Allah.
17 – Wahai anakku, seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya kerana tidak dipercayai orang dan seorang yang telah rosak akhlaknya akan sentiasa banyak melamunkan hal hal yang tidak benar. Ketahuilah, memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih mudah daripada memberi pengertian kepada orang yang tidak mahu mengerti.
18 – Wahai anakku, kamu telah merasakan betapa beratnya mengangkat batu besar dan besi yang amat berat, tetapi akan lebih lagi daripada semua itu, adalah bilamana kamu mempunyai jiran yang jahat.
19 – Wahai anakku, jauhilah bersifat dusta, sebab dusta itu mudah dilakukan, bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit sahaja berdusta itu telah memberikan akibat yang berbahaya.
20 – Wahai anakku, bukanlah satu kebaikan namanya bila mana kamu selalu mencari ilmu tetapi kamu tidak pernah mengamalkannya. Hal itu tidak ubah bagaikan orang yang mencari kayu bakar, maka setelah banyak ia tidak mampu memikulnya, padahal ia masih mahu menambahkannya.
21 – Wahai anakku, jadikanlah dirimu dalam segala tingkahlaku sebagai orang yang tidak ingin menerima pujian atau mengharap sanjungan orang lain kerana itu adalah sifat riya yang akan mendatangkan cela pada dirimu.
22 – Wahai anakku, ambillah harta dunia sekadar keperluanmu sahaja, dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk bekalan akhiratmu. Jangan engkau tendang dunia ini ke keranjang atau bakul sampah kerana nanti engkau akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain. Sebaliknya janganlah engkau peluk dunia ini serta meneguk habis airnya kerana sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka. Janganlah engkau bertemankan dengan orang yang bersifat talam dua muka, kelak akan membinasakan dirimu.
23 – Wahai anakku, apabila kamu menghampiri kediaman sesuatu kaum, ucaplah salam. Kemudian duduklah ditempat yang telah disediakan oleh mereka. Jangan mulakan perbualan sehingga mereka mulakannya. Sekiranya mereka suka berzikir maka sertailah mereka, jika sebaliknya maka jauhilah mereka dan sertailah kelompok lain.
24 – Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah, orang lain tidak akan tahu engkau takut kepada Allah s.w.t hanya untuk dihormati, sedangkan hatimu menyimpang daripada kebenaran.
25 – Wahai anakku, janganlah engkau terlalu menyayangi orang jahil kerana dia akan menganggap kamu bersetuju dengan perbuatannya. Janganlah engkau menghina sesuatu yang dibenci oleh orang bijaksana kerana dia akan terus meninggalkanmu.
26 – Wahai anakku, ketahuilah bahawa kekuasaan berada pada mulut orang-orang yang bijaksana. Mereka tidak berkata-kata melainkan dengan apa yang dikurniakan Allah s.w.t
27 – Wahai anakku, janganlah engkau menyesal kerana berdiam sahaja. Sesungguhnya percakapan itu berharga perak, sedangkan berdiam diri berharga emas.
28 – Wahai anakku, hindarilah dirimu daripada kejahatan, nescaya ia akan menjauhimu. Sesungguhnya kejahatan itu untuk sejahat-jahat makhluk.
29 – Wahai anakku, pilihlah majlis-majlis yang mengingati Allah, sertailah mereka, sekiranya engkau seorang yang berilmu engkau dapat memanfaatkan ilmumu. Sekiranya engkau seorang yang bodoh mereka akan mengajarmu. Allah akan merahmatimu dan juga mereka. Wahai anakku janganlah engkau menyertai majlis-majlis yang tidak mengingati Allah, sekiranya engkau seorang yang berilmu, engkau tidak dapat memanfaatkannya. Sekiranya engkau seorang yang bodoh, engkau akan bertambah bodoh. Allah akan murka kepadamu dan kepada mereka.
30 – Wahai anakku, janganlah engkau makan makanan yang tidak bersih. Bermesyuaratlah dalam urusanmu yang berbentuk ilmu.
31 – Wahai anakku, janganlah beriri hati dan tanding menandingi kerana ia meluaskan medan pertumpahan darah orang yang beriman. Pertumpahan darah dianggap oleh Allah sebagai pembunuhan, bukan kematian.
32 – Wahai anakku, sesungguhnya kebijaksaaan itu meletakkan orang miskin pada taraf raja-raja.
33 – Wahai anakku, hendaklah kamu ingat kebaikan orang dan lupa kejahatan orang. Dan hendaklah kamu lupa kebaikan kamu terhadap orang dan ingatlah kejahatan yang kamu lakukan kepada orang
Langgan:
Catatan (Atom)







